Selama ini, diskursus tentang patriarki sering kali berfokus pada perempuan sebagai korban utama, dan laki-laki sebagai pihak yang diuntungkan. Narasi ini tidak sepenuhnya keliru bahkan secara struktural, ia sangat akurat. Perempuan dan kelompok minoritas gender memang berada dalam posisi yang lebih rentan, lebih sering mengalami kekerasan, diskriminasi, dan marjinalisasi. Namun, ada satu lapisan lain yang kerap luput dibicarakan, yaitu bagaimana sistem yang melukai laki-laki di satu sisi, justru juga dapat melukai laki-laki melalui ekspektasi yang tampak “menguntungkan” itu sendiri.
Diskusi peluncuran booklet Kontemplasi Laki-laki: Mengungkap Keresahan Laki-laki pada Budaya Patriarki yang diterbitkan oleh Nahasea dan Suara Setara pada Rabu, 11 Maret 2026 lalu membuka celah refleksi yang jarang disentuh. Bukan untuk menggeser pusat perhatian dari perempuan, melainkan untuk memperluas cara kita memahami patriarki sebagai sistem yang kompleks yang tidak hanya menindas, tetapi juga membentuk, mengurung, dan menghancurkan manusia. Patriarki, dalam wajahnya yang paling halus, bekerja melalui tuntutan. Laki-laki diharapkan menjadi kuat, rasional. Laki-laki harus menjadi pelindung, pencari nafkah, penopang utama, guardian yang tidak boleh goyah. Dalam konstruksi ini, emosi bukan sekadar dianggap lemah, ia menjadi sesuatu yang harus disembunyikan, bahkan dihapus agar laki-laki dapat memenuhi ekspetasi sosial yang ada. Dari sini, kita bisa melihat paradoksnya, posisi dominan yang dilekatkan pada laki-laki justru datang bersama beban psikologis yang berat. Ketika ruang ekspresi dipersempit, ketika menangis dianggap memalukan, ketika curhat dilabeli tidak maskulin, maka yang terjadi bukanlah kekuatan melainkan represi emosional yang terus menumpuk.
Ada pula aspek lain yang sering terlewat, yaitu bagaimana standar maskulinitas dalam patriarki tidak hanya membebani laki-laki cisgender, tetapi juga berdampak keras pada transpria, transpuan, dan individu non-biner. Sistem ini memaksakan definisi gender yang sempit dan kaku, laki-laki harus maskulin, perempuan harus feminin, dan di luar itu dianggap menyimpang. Bagi transpria, misalnya, tekanan untuk “membuktikan” maskulinitas sering kali menjadi berlipat, mereka tidak hanya berhadapan dengan ekspektasi sosial umum, tetapi juga tuntutan untuk diakui sebagai laki-laki “yang sah” dalam standar patriarkal. Ini bisa mendorong internalisasi maskulinitas toksik yang sama seperti menekan emosi, menolak kerentanan, dan memaksakan diri memenuhi standar-standar maskulinitas fisik maupun sosial yang sebenarnya tidak manusiawi. Sementara itu, transpuan dan individu non-biner justru sering menjadi target disiplin sosial yang lebih keras karena dianggap menolak atau mengganggu tatanan patriarkal itu sendiri. Transpuan, khususnya, kerap mengalami kekerasan berlapis. baik karena identitas gendernya maupun karena ia keluar dari ekspektasi maskulinitas yang telah dilekatkan sejak lahir.
Dalam logika patriarki, “gagal” menjadi laki-laki maskulin sering dihukum lebih keras daripada sekadar menjadi perempuan. Bagi individu non-biner, tekanan ini hadir dalam bentuk penghapusan eksistensi, mereka dianggap tidak valid dan kemudian dipaksa untuk memilih antara dua kategori yang tidak merepresentasikan dirinya. Dengan demikian, patriarki tidak hanya menciptakan hierarki, tetapi juga mengawasi dan menghukum setiap upaya untuk keluar darinya. Masalah-masalah ini menjadikan pengalaman trans dan non-biner sebagai salah satu titik paling jelas tentang betapa sempit dan represifnya sistem ini bekerja. Dengan beragam permasalahan ini, maka tidak mengherankan jika dalam banyak konteks, laki-laki menunjukkan tingkat depresi dan kecenderungan bunuh diri yang sangat tinggi. Mereka tidak diajarkan untuk mengenali luka, apalagi mengungkapkannya. Kesedihan harus ditelan sendiri, kehilangan harus dihadapi dalam diam, dan kerentanan harus disamarkan sebagai kekuatan. Dalam jangka panjang, ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan konsekuensi langsung dari pola didik patriarkal yang diwariskan lintas generasi dan dilanggengkan lewat struktur sosial politik budaya yang ada. Booklet Kontemplasi Laki-laki menangkap realitas ini melalui kombinasi data dan pengalaman personal. Salah satu temuannya menunjukkan bahwa mayoritas laki-laki masih terjebak dalam stereotip negatif terkait ekspresi emosional. Ini bukan sekadar soal persepsi sosial, tetapi juga tentang bagaimana identitas laki-laki dibentuk sejak dini melalui keluarga, pendidikan, hingga lingkungan sosial yang lebih luas.
Namun penting untuk ditegaskan, mengakui bahwa laki-laki juga menjadi korban bukan berarti menyamakan posisi mereka dengan perempuan. Relasi kuasa tetap timpang. Perempuan dan minoritas gender lain masih menghadapi bentuk penindasan yang lebih sistemik dan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Justru karena itulah, refleksi dari sisi laki-laki menjadi penting. Bukan sebagai kompetisi korban apalagi adu nasib, tetapi sebagai pintu masuk untuk mempertemukan semua perspektif, cerita, dan pengalaman untuk dapat membongkar sistem secara lebih menyeluruh. Dalam diskusi ini, muncul satu gagasan kunci bahwa perubahan tidak mungkin terjadi jika hanya dibebankan pada satu pihak. Kesetaraan gender tidak bisa dicapai jika laki-laki tetap terperangkap dalam definisi maskulinitas lama yang kaku dan mengekang.
Ketika laki-laki mulai memahami bahwa standar “kuat” yang selama ini mereka kejar justru melukai diri sendiri, di situlah ruang transformasi mulai terbuka. Menariknya, pendekatan yang ditawarkan tidak bersifat bombastis. Tidak ada seruan revolusi besar yang abstrak. Yang ditekankan justru langkah-langkah kecil seperti membuka ruang percakapan, belajar mengungkapkan emosi, berhenti menghakimi laki-laki lain yang menunjukkan kerentanan. Perubahan semacam ini mungkin tampak sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya karena ia bisa dilakukan, diulang, dan perlahan menggeser norma yang sudah mengakar. Pada akhirnya, patriarki bukan hanya soal siapa yang berkuasa dan siapa yang tertindas. Ia adalah sistem yang membentuk cara manusia menjadi manusia dan sering kali dengan cara yang tidak manusiawi. Laki-laki dipaksa menjadi simbol kekuatan tanpa ruang untuk lemah, sementara perempuan diposisikan sebagai pihak yang harus tunduk. Keduanya sama-sama terjebak dalam peran yang membatasi, meski dengan konsekuensi yang tidak setara.
Maka, membongkar patriarki tidak cukup hanya dengan mengkritik ketimpangan yang tampak di permukaan. Ia juga menuntut keberanian untuk melihat luka-luka yang tersembunyi, termasuk luka yang selama ini dipendam oleh laki-laki. Bukan untuk mengalihkan fokus, tetapi untuk memastikan bahwa perjuangan kesetaraan benar-benar menyasar akar persoalan. Sebab, jika laki-laki terus diajarkan untuk menekan emosi demi terlihat kuat, maka yang kita wariskan bukanlah ketangguhan, melainkan generasi yang terbiasa hidup dalam keterasingan dari dirinya sendiri.
Iman Amirullah merupakan salah satu pembelajar di Setara Berdaya Academy oleh Nahasea. Ia meraih gelar S1 Hubungan Internasional dari Universitas AMIKOM Yogyakarta. Saat ini ia merupakan Staff Riset dan Advokasi di Beranda Migran serta Managing Editor Suara Kebebasan. Ia sebelumnya merupakan National Coordinator untuk Students For Liberty Indonesia 2024-2025 dan banyak bergelut di isu demokrasi serta kesetaraan dan keragaman gender.

Comments
Post a Comment