Ayah, Aku Tetap Putri Kecilmu

    


    Ayah... Engkaulah yang pertama kali menggenggam tanganku dengan penuh kehangatan saat aku terlahir ke dunia ini, yang selalu menjadi tempatku bersandar di saat dunia terasa keras, dan suara yang selalu berhasil menenangkan di setiap ketakutanku untuk melangkah. Di ingatanku dulu, setiap memasuki penerimaan siswa baru, engkau selalu mengusahakan untuk mengantarku ke sekolah yang mana membutuhkan waktu + 2 jam dari rumah di kampung ke sekolah. Sampai di sekolah tak lupa Engkau memberikan uang jajanku dan berpesan, “baik-baik sekolah ya, boru”. Hingga saat ini semua momen kecil itu terasa abadi, seperti janji bahwa segalanya takkan pernah berubah. 

    Tapi hari-hari terus bergulir. Aku bertambah besar yang dulunya disebut seorang anak kecil menjadi seorang remaja dan mungkin sekarang disebut dewasa. Tanpa kusadari, ada ruang kosong yang perlahan tercipta di antara kita berdua. Ayah tak lagi bertanya, “sudah makan atau belum?”. Kita semakin menjauh. Semakin jauh merantau dari kampung maka akan semakin jauh pulak hubungan ini. Aku sering bertanya dalam hati, "apakah aku yang sudah terlalu sibuk dengan dunianku sendiri, ataukah kau yang kini memiliki dunia baru yang tak lagi melibatkanku sepenuhnya?". Yang pasti, aku merindu Ayah yang dulu yang selalu punya waktu, selalu punya senyum hangat, selalu tahu cara membuatku merasa benar-benar dilihat dan dicintai.

    Ayah... Aku masih mengingat satu moment itu dengan sabar ayah menungguku di warung kopi. Sore menuju malam hari disertai dengan hujan yang lebat kala itu. Saat turun dari bus, aku langsung mencari sosoknya, melihat raut wajahnya dan memastikan bahwa itu ayah. Ayah benar benar setia menungguku dan ketika sudah melihat raut wajahnya seketika rasa aman itu benar ada dan seketika aku merasa anak yang paling bahagia di dunia ini. Ayah tidak cerewet dan malah berkata, “mau makan dulu atau mau minum dulu”?, padahal aku tahu sendiri bahwa ayah pasti sudah berjam-jam menungguku di warung kopi. Kala itu aku dan ayah terpaksa harus menerobos hujan dengan menggunakan sepeda motor sembari membagi mantel hujannya denganku. Namun di balik rasa rindu itu, aku paham satu hal yang tetap utuh: ayah tak pernah berhenti mencintaiku. Hanya saja, cara menyampaikannya yang kini berbeda. Mungkin kau lelah setelah seharian bekerja. Mungkin usiamu membuatmu lebih pendiam. Atau mungkin kau bingung bagaimana harus dekat dengan anak yang sudah bukan lagi bocah kecil. Aku sering diam-diam merindukan panggilanmu yang dulu penuh semangat, kehadiranmu untukku yang tak perlu diundang. Kini aku belajar bahwa cinta tak selalu harus terlihat jelas; kadang ia bersemayam dalam doa-doa sunyi, dalam kelelahan yang kau sembunyikan, dalam tanggung jawab yang kau pikul sendiri. 

Sekarang aku mulai mengerti bahwa kau juga manusia biasa, bukan hanya sosok kokoh yang selalu kuandalkan di hidup ini. Kau punya capek yang tak pernah kau keluhkan, punya beban yang tak pernah kau bagi. Diammu sekarang bukan berarti acuh, melainkan cara kau bertahan dengan versi perjuanganmu sendiri. Dan dari situ aku belajar mencintaimu kini bukan lagi soal menunggu pelukmu, tapi juga tentang menghargai keheninganmu. Aku tak lagi mengharapkanmu kembali persis seperti dulu. Harapan terbesarku hanya satu semoga suatu saat kita bisa duduk bersama tanpa rasa canggung, berbagi cerita tanpa ada tembok tak terlihat, dan saling mengerti meski tak banyak kata diucapkan. Karena bagaimanapun waktu mengubah kita, di sudut hati yang paling dalam, kau tetap ayah yang pertama kali mengajarkanku apa itu rasa aman, apa itu dicintai, dan apa itu “pulang”. Aku percaya hubungan kita tak pernah benar-benar retak hanya tertutup dengan kesibukan, perbedaan usia, dan cara kita masing-masing menjalani hidup. 

Meski saat ini kita jarang lagi berbagi cerita baik itu langsung maupun dari via telepon, aku masih mengingat dengan jelas cara kau berjalan sedikit di depanku, dan suaramu yang tegas namun selalu menenteramkan. Aku juga mulai melihat bahwa cintamu sekarang hadir dalam bentuk lain dalam kerja keras yang tak pernah kau keluhkan, dalam diam yang menyimpan lelah, dalam langkah tetap tegar meski kau sendiri mungkin sedang penat. Kau mungkin tak lagi bertanya apakah aku sudah makan, tapi kau memastikan aku tak pernah kelaparan. Kau mungkin tak lagi menungguku pulang, tapi kau menjaga agar selalu ada rumah untukku kembali. Dan dari sini aku belajar cinta orang tua tak pernah benar-benar menyusut ataupun pudar ia hanya berganti rupa mengikuti waktu. Aku yang dulu selalu ingin diperhatikan, kini belajar untuk lebih dulu memperhatikan. Aku yang dulu menunggu dipeluk, kini belajar memeluk lebih dahulu. Aku yang dulu ingin dimengerti, kini berusaha memahami. Jika suatu saat aku cukup berani, aku ingin duduk di dekatmu dan berkata pelan bahwa aku merindukanmu. Bukan dengan air mata atau keluhan, tapi dengan suara yang tenang dan tulus. Aku ingin kau tahu bahwa meski aku sudah dewasa, di hatiku aku tetap anakmuanakan yang masih butuh ayah, bukan hanya sebagai pelindung, tapi sebagai tempat hati ini berlabuh saat lelah.

Ayah... Rambut mu semakin memutih, langkahmu pun semakin perlahan, aku ingin ada di sisimu seperti dulu kau selalu ada di sisiku. Aku ingin menjadi tangan yang menggenggam tanganmu, bahu tempat kau bersandar, suara yang membuatmu merasa tenang sebagaimana kau pernah menjadi semua itu bagiku. Karena cinta antara ayah dan anak tak diukur dari seberapa sering kita bertemu atau seberapa banyak kata yang terucap. Ia hidup dalam ikatan yang tetap kuat meski pernah ada jarak. Selama aku masih bernapas, selama hati ini masih bisa merindu, kau akan selalu menjadi sosok yang tak tergantikan dan cinta pertamaku, pelindung pertamaku, rumah pertamaku. Sejauh apa pun aku melangkah, selalu ada satu arah yang ingin kutuju pulang kepadamu. dan dalam setiap arti “pulang” yang kupahami, di sanalah namamu selalu bertahta. Kau hadir dalam setiap keberanianku, dalam setiap kekuatanku, dalam setiap doa sunyiku saat dunia terasa terlalu ramai. 

Aku mungkin tak pandai merangkai kata untuk mengungkapkan semua ini. Tapi di dalam hati, rasa hormat dan kagumku padamu tak pernah luntur. "My idola is My Father", itu yang selalu terlontar dari mulutku ini ketika ada yang bertanya siapa yang kau idolakan ? dari ayah, aku belajar bahwa cinta sejati tak harus selalu lantang cukup setia menjaga dari belakang, menopang tanpa perlu dilihat, melindungi meski tak selalu berada di depan. Kelak, jika aku lelah, aku akan ingat bahwa aku dibesarkan oleh seseorang yang tak pernah menyerah. Jika hidup terasa berat, aku akan ingat wajahmu wajah yang mengajarkanku bahwa kekuatan bisa lahir dari kesabaran dan keteguhan dari kesederhanaan. Maka di setiap langkahku hari ini tidak luput dari semua ajaranmu kepadaku, ada bagian darimu yang ikut berjalan membimbingku. Dalam cara berpikirku, dalam cara bertahanku, bahkan dalam cara aku mencintai orang lain. 

Tanpa kusadari, kau telah menjadi bagian terdalam dan terpenting dari diriku. Bila suatu hari aku benar-benar pulang dalam arti yang paling utuh aku ingin datang membawa rasa syukur yang tulus. Syukur atas pelukan yang pernah menguatkan, atas diam yang pernah melindungi, atas cinta yang tak pernah benar-benar pergi tetapi tetap utuh meski bentuknya berubah. Aku ingin pulang dengan hati ringan, tanpa luka tersembunyi, membawa rindu yang sudah dewasa rindu yang tak menuntut, hanya ingin berada di dekatmu. Aku membayangkan hari itu cahaya sore menyelimuti ruangan, aku duduk di sampingmu, mendengar napasmu yang kini lebih tenang, bercerita kembali kepadamu tentang apa yang tak ingin kujalani di hidup ini sembari melihat rambutmu yang semakin putih dan tanganmu yang mulai keriput. Engkau tetap tersenyum kepadaku dan inilah yang sebenanya kutungngu- kutunggu, aku tahu aku telah benar-benar pulang. 

Jika dulu kau adalah dunia kecilku, kini aku ingin menjadi ketenanganmu. Jika dulu kau melindungiku dari segala ketakutan, kini aku ingin menjadi tempat lelahmu beristirahat. Aku ingin menjaga seperti kau pernah menjagaku meski hanya dengan kehadiran sederhana, dengan kesediaan menemani. Ayah terimakasih sudah menjadikanku menjadi salah satu anak perempuan yang bahagia di dunia ini aku bangga dan bersyukur untuk setiap moment sudah kita lewati sama-sama. Aku ingin kau tahu bahwa setiap langkahku tak pernah lepas dari jejakmu, setiap doamu diam-diam menjadi kekuatanku, setiap keringatmu menjadi fondasi keberhasilanku supaya aku tidak gampang menyerah. Dan sampai hari terakhir, aku akan terus membawamu dalam doa-doa dan langkah pulangku. Karena bagaimanapun waktu berubah, satu hal tetap abadi di hatiku, ayah, engkau akan selalu menjadi cinta pertama, pelindung pertama, dan rumah yang tak tergantikan.

Comments